Pada suatu hari Emile, seorang pria yang berumur 14 tahun sedang berada di rumahnya bersama dengan kakaknya yang berumur 22 tahun dan keponakannya yang masih seorang bayi, dikagetkan dengan suara ketokan keras di pintu rumahnya. Sewaktu pintu dibuka, ternyata seorang polisi berdiri di depannya sambil mengatakan dengan suara yang tegas, “Besok, semua harus melapor ke kantor polisi pada pukul 08:00 pagi.” Keesokan harinya setelah Emile bangun pagi, ia memakai sepatu bot yang dibuat ayahnya satu tahun yang lalu dan merasakan seolah-olah ia sudah menjadi orang dewasa sekarang. Dengan cepat dipanggilnya kakaknya untuk segera ke kantor polisi, sebab jam sudah menunjukkan pukul 07:45 pagi. Sewaktu mereka tiba di kantor polisi, Emile merasa kaget, sebab semua yang hadir di sana adalah orang Yahudi. Oleh karena suasana perang pada waktu itu, maka mereka semua disuruh cepat-cepat naik kereta api gerbong barang untuk diungsikan sementara. Selama tiga hari perjalanan yang berdesak-desakan tersebut, mereka tidak diberi makanan ataupun minuman maupun kebebasan untuk bergerak di dalam gerbong tersebut. Terpaksa banyak yang buang air kecil di gerbong tersebut, sehingga gerbong kereta api tersebut menjadi kotor dan sangat berbau pesing. Akhirnya pada pagi yang ketiga, kereta api berhenti dan mereka diperintahkan dengan kasar untuk bergerak cepat keluar dari gerbong, “Ayo cepat babi-babi dekil, Yahudi! Yahudi kotor, cepat bergerak ke sana !” seru petugas. Para pria diarahkan ke jalur sebelah kiri, sedangkan wanita dan anak-anak diarahkan ke jalur sebelah kanan. Untuk sejenak Emile berpikir apakah ia masih digolongkan anak kecil atau pria dewasa. Ia melihat kembali kepada sepatu bot yang dipakainya, buatan ayahnya setahun yang lalu dan dia mengambil keputusan bahwa ia sekarang adalah seorang pria dewasa dan langsung berjalan ke arah sebelah kiri. Ia menoleh ke belakang untuk melihat kakaknya yang menutup kepalanya dengan selendang sambil menggendong keponakannya. Itulah kali terakhir di mana ia melihat mereka, sebelum mereka masuk ke ruang gas. Emile tiba di kamp Auschwitz dan setelah melewati pengalaman pahit ini, ia menceritakan peristiwa tersebut sambil menggerinding mengingat pilihan yang harus dibuat pada saat itu.
Sungguh kuasa sebuah pilihan yang menentukan kehidupan seseorang. Bila Anda berada pada persimpangan jalan, ke arah manakah yang Anda harus pilih? Pilihan senantiasa mempunyai dampak yang baik atau buruk. Mantan persiden AS Abraham Lincoln mengatakan, “The health you enjoy is largely your choice!” Apakah benar sebutan yang mengatakan bahwa kesehatan yang Anda nikmati merupakan sebagian besar hasil dari pilihan Anda? Ada berbagai macam penyakit yang diderita kerena pilihan gaya hidup yang salah, misalnya keinginan untuk makan berlebihan, maupun kurangnya bergerak badan. Kesemuanya ini menyebabkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, obesitas (kegemukan), kencing manis, penyakit-penyakit kanker tertentu dan sebagainya.
Para ahli riset di Yale University membagikan pasien-pasien borok usus dalam beberapa golongan sesuai dengan pilihan mereka, apakah memilih untuk memakai pengobatan borok usus atau tidak. Apakah memilih untuk tidak makan obat dan hanya dengan makanan berpantang ketat atau tidak. Apa pun pilihan mereka, pasien yang diberikan pilihan senantiasa sembuh dalam waktu yang lebih cepat daripada para pasien yang dipaksakan untuk mengikuti resimen tertentu. Bilamana pasien diberikan pilihan, maka mereka merasakan tanggung jawab penuh untuk menjalankan pilihan mereka.
